Secangit Kopi for Positive Thinking

Judul: Secangit Kopi for Positive Thinking
Penulis: Naïf Andurrahman Al-Zuraiq
Penerbit: Real Books, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2013
Tebal: 204 Halaman
Peresensi: Achmad Marzuki*

Seorang lelaki berniat menjual rumahnya karena ingin membeli rumah baru. Dia mendatangi temannya yang ahli dalam penjualan. Ditulislah sebuah iklan dengan data-data yang sangat detail berupa: rumah ini terletak di lokasi yang sangat strategis, ukuran rumah yang luas, konstruk bangunan yang kuat, berhalaman luas, taman yang indah, serta kolam renang sederhana dalam rumah tersebut. Sebelum disebarluaskan, dibacalah iklan tersebut di depan pemilik rumah.

Setelah selesai membacanya, si pemilik rumah berkomentar “Bagus sekali rumah ini. Selama hidup saya memimpikan rumah seperti ini. Saya tidak menyadari bahwa selama ini saya tinggal di dalamnya.” Kemudian ia melanjutkan, saya mohon jangan disebarluaskan iklan ini, saya tidak jadi menjual rumahnya” (hal. 129). Kisah ini hanyalah satu dari 66 kisah lainnya yang singkat, sederhana tetapi penuh makna.
Dari kisah di atas menyadarkan kita betapa selalu kita lupa bahwa segala nikmat yang kita miliki begitu besar. Barulah akan terlihat jika dipandang melalui mata orang lain. Buku berjudul “Secangkir Kopi for Positive Thingking” karya Naif Abdurrahman al-Zuraiq ini memuat kisah-kisah singkat namun sarat akan hikmah. Ada kisah pengembangan kreativitas, pengembangan kecerdasan sosial, penguat keimanan, penyempurna amal, pengembangan kinerja, serta pengembangan manajemen.
Salah satu kisah pengembangan kecerdasan sosial seperti di bawah ini. Merupakan tradisi baik di beberapa perguruan tinggi di Amerika untuk mengundang alumninya pada suatu kesempatan reuni. Pada saat itu mereka saling bercerita keadaan mereka  satu sama lain. Siapa di antara mereka yang sukses dalam karir, siapa yang menikah, siapa yang punya anak dan sebagainya. Dihidangkan kopi dalam teko dan disediakan beberapa cangkir variatif. Ada cangkir indah buatan Cina, ada yang terbuat dari tembikar, terbuat dari bahan melamin, terbuat dari kristal, terbuat dari kaca, bahkan ada juga yang terbuat dari plastik biasa.
Kemudian sang dosen mempersilahkan mantan pelajarnya untuk menuangkan sendiri masing-masing minumannya. Sudah dapat ditebak, mereka berebut cangkir yang paling bagus sehingga meninggalkan cangkir yang terbuat dari tembikar. Melihat kejadian tersebut sang dosen berucap “Mengapa kalian berebut cangkir yang paling bagus? Bukankah yang dipentingkan adalah isi cangkir tersebut, sedangkan hidangannya sama; kopi.” (hal. 28-29). Betapa kita selalu lupa akan esensi dari suatu hal. Selalu mementingkan kulit ketimbang isi. Naïf Abdurrahman melalui kisah-kisah inspiratif ini mengajak kita untuk sadar pada keadaan.
Buku ini sangat cocok bagi pengajar. Akan sangat menarik saat memulai pelajaran dengan cerita-cerita singkat penuh makna. Psikologi siswa yang telah semangat di awal pertemuan akan membantunya mempermudah memahami pelajaran yang diberikan guru. Di akhir pertemuan juga diakhiri dengan memberikan cerita lagi. 
Hal ini dimaksudkan para siswa akan menunggu cerita-cerita lainnya pada pertemuan mendatang. Adalah bagus memulai belajar dengan otak yang ceria. Pula bagi ibu-ibu, membacakannya pada sang buah hati  sebagai pengantar tidur. Karena secara tak langsung psikologi si kecil akan terpengaruh, sehingga ia memiliki rasa ingin tahu yang amat besar, yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketika ia beranjak dewasa kelak.
Perubahan dalam kehidupan memang seharusnya dimulai dengan merubah diri menjadi lebih baik. Ada dua kisah dalam buku mungil ini yang sangat bagus untuk menggambarkan konsep instrospeksi yang menyenangkan. Yaitu kisah Rumah Seribu Kaca (hal. 183) dan kisah Istriku Tidak Bisa Mendengar (hal. 55). Dari kedua cerita ini, semuanya bermuara pada pribadi kita masing-masing. Pada cerita yang kedua juga mengajarkan bagaimana kita menjaga aib keluarga.
Selain itu, ada beberapa poin yang menarik bagi saya. Sebagai peresensi, saya biasanya menemukan beberapa kesalahan ketik dalam suatu buku. Buku bebas dari kesalahan ketik. Harus saya akui bahwa proses editing dari pihak penerbit juga sangat teliti dan menjanjikan. Walaupun kesalahan ketik merupakan hal remeh, tetapi juga memiliki dampak negatif yaitu akan ditiru oleh orang yang sedang belajar.
Kisah-kisah dalam buku ini merupakan pemisahan dan analog yang sangat menarik dan berkesan. Dengan membacanya kita akan mempunyai sikap dan pikiran yang positif. Begitu komentar salah satu pembaca yang tertulis di sampul belakang buku. Setelah saya baca, tak salah ia mengatakannya begitu. Sungguh buku yang sangat menarik dan inspiratif.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Secangit Kopi for Positive Thinking"

Posting Komentar